Mengapa Idul Adha Sering Disebut Juga Dengan Lebaran Haji?

Umra.id, Jakarta – Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat Islam yang dirayakan di seluruh dunia. Hari Raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan qurban bagi yang mampu. Hewan yang disembelih bisa seperti, domba, sapi, kerbau atau unta. Hari Raya Idul Adha oleh banyak orang disebut juga dengan hari raya qurban dan lebaran haji.

Mengapa Hari Raya Idul Adha disebut juga dengan lebaran Haji?

Disebut sebagai lebaran karena tepat pada bulan Dzulhijjah umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan rukun Islam ke lima yaitu ibadah haji yang berada di Masjidil Haram. Pada 10 Dzulhijjah atau bertepatan dengan Idul Adha, umat Islam yang menunaikan ibadah haji sedang melakukan rukun haji terakhirnya dengan penyembelihan hewan qurban.

Peristiwa qurban berkaitan dengan ibadah haji.

Pada buku Di Balik 7 Hari Besar Islam (2012) karya Muhammad Sholikhin, Hari Raya Haji merupakan berkumpulnya umat Islam dunia, yang seharusnya menjadi ajang muktamar atau konferensi terbesar umat Islam sedunia untuk membahas persoalan-persoalan umat Islam.

Di mana itu ditandai dengan hari wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijah. Wukuf merupakan salah satu ritual dalam menunaikan ibadah haji yang mengajarkan untuk meninggalkan aktivitas sejenak (berdiam diri) di Arafah ketika mulai waktu tergelincir sampai terbenam matahari.

Padang Arafah adalah tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawa setelah dipisahkan di dunia, dan merupakan tempat yang sakral bagi umat Islam. Tempat tersebut juga menjadi tempat nabi Adam bertaubat, dan memperoleh petunjuk sebagai bekal menjalani kehidupan di bumi.

Bagi yang tidak berhaji disunahkan berpuasa pada 8-9 Dzulhijah. Itu sebagai simbol solidaritas dan pengorbanan untuk sesama manusia. Baca juga: Makna Idul Fitri Dengan memakai pakaian ihram warna putih, para jamaah haji melaksanakan ibadah haji. Bulan Dzulhijah disebut juga dengan bulan besar, al syahr al akbar yang dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Bahkan perayaan dan peringatannya, dalam konteks syariah justru lebih agung dibanding dengan hari raja Idul Fitri. Ini diindikasikan dengan beberapa hal yakni:

1. Takbir yang dikumandangkan di hari raya lebaran (syawal) hanya berlangsung semalam sejak maghrib hari terak hir Ramadhan hingga pagi hari pertama lebaran saat Salat Ied. Sementara takbir untuk hari raya haji atau hari raya qurban diperintahkan selama empat hari. Di mana sejak maghrib saat hari raya ied 10 Dzulhijah disambung tiga hari tasyrik.

2. Hari yang diharamkan berpuasa pada bulan syawal hanya satu hari saja. Sementara pengharaman puasa pada bulan haji berlangsung selama empat hari tanggal 10-13 Dzulhijah.

3. Hari raya qurban ditandai dengan penyembelihan hewan qurban di seluruh dunia. Hewan qurban itu kemudian disalurkan kepada masyarakat umum sebagai sarana ketakwaan kepada Allah SWT.

Pengorbanan Nabi Ibrahim

Lebaran Qurban tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim yang melakukan pengorbanan atas perintah Allah SWT. Dikutip situs muslim.or.id, Nabi Ibrahim disebut juga dengan Abul Anbiya (Bapaknya para Nabi).

Sejarah penyembelihan hewan qurban berasal dari kisah Nabi Ibrahim bersama putra Nabi Ismail. Banyak teladan yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman dalam Surah An Nahl ayat 120 yang artinya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah),” Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail di Padang Arafah.

Padahal Nabi Ibrahim telah lama merindukan untuk memiliki buah hati (anak). Namun, karena Nabi Ibrahim seorang yang patuh. Maka, ia mendahulukan perintah Allah dengan cara menaati-Nya. Perintah dari Allah SWT tersebut juga mendapat dukungan dari anaknya sendiri. Bahkan meminta untuk segera melaksanakannya.

Dalam firman Allah SWT Surah Ash Shaffat ayat 102 yang artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”, Ia menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Melihat kesetiaan dan ketakwaan Nabi Ibrahim, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan hewan domba sebagai qurban. Idul Adha merupakan hari di mana berbagi kebahagiaan di antara kaum muslimin.

Adanya penyembelihan hewan qurban, umat Islam akan bergotong royong, saling membantu satu sama lain. Itu terlihat ketika penyembelihan dimulai hingga pembagian daging hasil penyembelihan.