Kembali

SERIAL SIROH UMRA.ID : PERISTIWA PENTING DI BULAN RAMADHAN - FATHUL MAKKAH

Dipublikasikan pada 30 Mar 2024 02:23
https://api-uploads.umra.id/banner/c4473f28-9dc3-4122-bf30-6ec409ebf289.jpg

UMRA.ID, Jakarta - Assalamualaikum, kali ini UMRA.ID membagikan tulisan SERIAL SIROH UMRA.ID yaitu tentang PERISTIWA PENTING DI BULAN RAMADHAN - FATHUL MAKKAH yang insya Allah sangat bermanfaat bagi pembaca. Dengan mempelajari bahan bacaan yang UMRA.ID bagikan ini, semoga pembaca mendapatkan manfaat yakni mempertebal pengetahuan Islam dan meningkatkan keimanan. Bagi pembaca yang belum maupun yang telah melaksanakan Umroh dan Haji dapat memetik hikmah dengan bertambahnya wawasan Islamnya. (Bagi yang ingin mengikuti tulisan bagian pertama, klik disini

 

 

 

PASUKAN ISLAM BERGERAK KE ARAH MEKKAH 

 

Pada hari kesepuluh Ramadhan 8 H, Rasulullah ﷺ meninggalkan Madinah dan berangkat menuju Mekkah bersama sepuluh ribu shahabat. Madinah diwakilkan kepada Abu Ruhm Al-Ghifari. Ketika Rasulullah tiba di Juhfah atau setelah melewati Juhfah, beliau bertemu paman beliau, Al-Abbas bin Abdul Muththalib, yang telah masuk Islam dan hijrah bersama seluruh keluarganya. 

 

Kemudian setiba di Abwa', beliau juga bertemu dengan anak paman beliau, Abu Sufyan bin Al-Harits dan anak bibi beliau, Abdullah bin Abu Umayyah. Namun, beliau menolak untuk bertemu dengan mereka berdua. Karena keadaan keduanya sudah payah dan letih, Ummu Salamah berkata kepada beliau, "'Jangan biarkan anak pamanmu dan anak bibimu menjadi orang yang paling menderita karenamu.

 

Ali bin Abu Thalib memberi saran kepada Abu Sufyan bin Al-Harits, "Temuilah Rasulullah ﷺ langsung di hadapan beliau lalu katakan seperti yang dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf: 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)' (QS. Yusuf:91). Beliau tidak ridha sekalipun ada seseorang yang perkataannya lebih baik dari itu.'

 

Maka Abu Sufyan melaksanakan saran Ali ini. Kemudian beliau bersabda kepada Abu Sufyan, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian) dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang (QS. Yusuf:92).

 

Setelah itu, Abu Sufyan melantunkan beberapa bait syair di hadapan beliau, di antaranya:

 

Demi hidupmu aku bersumpah, ketika aku membawa bendera

Untuk memenangkan generasi Lata atas generasi Muhammad

Laksana pengelana yang kebingungan di malam yang pekat

Namun, sekarang aku telah mendapatkan petunjuk dan. diberi petunjuk

Seseorang memberiku petunjuk dan menuntunku ke jalan Allah

Sekalipun dahulu aku selalu mengusirnya dengan gigih.

 

Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan dalam keadaan puasa, begitu pula semua orang, hingga tiba di Al-Kudaid, sebuah mata air yang terletak antara Asfan dan Qudaid. Beliau berbuka di sana bersama semua orang yang bergabung bersama beliau. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Marr Azh-Zhahran. Beliau memerintahkan pasukan untuk berhenti dan mereka pun menyalakan api unggun. Mereka menyalakan ribuan api unggun. Beliau mengangkat Umar bin Al-Khaththab sebagai penjaga.

 

Setelah pasukan Muslimin singgah di Marr Azh-Zhahran, Al-Abbas berputar-putar menaiki keledai Rasulullah yang berwarna putih, barang kali mendapatkan tukang kayu bakar atau seseorang yang bisa memberi kabar kepada orang-orang Quraisy agar mereka keluar dan meminta jaminan keamanan kepada beliau sebelum beliau memasuki (menaklukkan) Mekkah. Allah menjadikan orang-orang Quraisy tidak mendengar kabar ini sekalipun sebenarnya mereka selalu bersikap waspada. Abu Sufyan juga berputar-putar mencari informasi bersama Hakim bin Hizam dan Budail bin Zarqa'.

 

Al-Abbas berkata, "Demi Allah, ketika aku menunggang keledai beliau itulah aku mendengar suara Abu Sufyan dan Budail Bin Zarqa' yang sedang berbincang-bincang. Abu Sufyan berkata, "Aku tidak pernah sekalipun melihat nyala api dan pasukan yang sebesar itu.' Budail menyahut, "Demi Allah, itu pasti Khuza'ah. Mereka telah dibakar api peperangan.” 

 

Abu Sufyan berkata, Khuza'ah lemah dan sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan nyala api dan pasukan sebesar itu."

 

Al-Abbas berkata, "Setelah aku yakin benar bahwa itu adalah suaranya, aku bertanya, 'Apakah itu Abu Hanzhalah?' Rupanya dia juga mengenali suaraku. Dia bertanya, 'Apakah itu Abul Fadhl.' Aku menjawab, 'Benar.’

 

'Ada apa dengan dirimu? Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Aku menjawab, 'Itu Rasulullah ﷺ di tengah orang-orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy.

 

'Apa salahnya jika aku menjadikan ayah dan ibuku sebagai jaminanmu?' tanya Abu Sufyan. Aku berkata, 'Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, niscaya beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung keledai ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Rasulullah ﷺ, lalu mintalah jaminan keamanan kepada beliau.' Maka Abu Sufyan naik di belakangku. sedangkan kedua temannya kembali ke tempat semula. 

 

Setiap kali aku lewat di dekat nyala api kaum Muslimin, mereka bertanya, 'Siapa itu?' Setelah mereka mengetahui keledai Rasulullah ﷺ yang kunaiki dan aku yang berada di atas punggungnya, mereka berkata, ‘Rupanya paman Rasulullah ﷺ  yang sedang menunggang keledai beliau.'

Ketika aku melewati nyala api Umar bin Al-Khaththab, dia bertanya, 'Siapa itu?' Dia menghampiriku. Saat dia melihat Abu Sufyan berada di belakangku, dia berkata, 'Hai Abu Sufyan, musuh Allah! Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian pun.

 

Kemudian Umar beranjak ke arah Rasulullah ﷺ untuk memperingatkan beliau. Aku memacu keledai lebih cepat hingga dapat mendahului Umar. Aku segera turun dari punggung keledai dan masuk ke tempat beliau. Setelah itu Umar pun masuk, sambil berkata, "Wahai Rasulullah, ini adalah Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya. 

 

Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya." Kemudian aku duduk di dekat Rasulullah ﷺ. Aku memegang kepala beliau __memegang kepala dalam kehidupan sosial Arab memang bukan merupakan perilaku yang tidak sopan, apalagi dalam hal ini Al-Abbas adalah paman beliau, meskipun kedudukan beliau lebih tinggi__ dan berkata, "Demi Allah, tak seorang pun boleh berbicara dengannya pada malam ini kecuali aku.

Karena Umar bin Al-Khaththab banyak berbicara tentang Abu Sufyan, aku berkata, "Tahanlah dirimu wahai Umar. Demi Allah, andai saja Abu Sufyan berasal dari Bani Adi bin Ka'ab, engkau pasti tidak akan berkata seperti itu.'" 

 

Umar menyahut, "Tahan kata-katamu wahai Abbas. Demi Allah, keislamanmu ketika engkau masuk Islam itu lebih kucintai daripada keislaman Al-Khaththab, kalau memang dia masuk Islam. Dan aku tahu bahwa keislamanmu juga lebih dicintai oleh Rasulullah daripada keislaman Al-Khaththab." 

 

Rasulullah ﷺ  bersabda, “Bawalah ia pergi ke kemahmu, wahai Abbas. Besok pagi datanglah ke sini bersamanya!” Maka aku pun beranjak pergi. Pagi harinya aku menemui beliau lagi. Ketika melihat Abu Sufyan yang juga ikut bersamaku, beliau bersabda "Celaka kau, wahai Abu Sufyan. Bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah?" 

Abu Sufyan berkata, "Demi ayah dan ibuku sebagai jaminannya, engkau sungguh orang yang murah hati, mulia, dan selalu menjaga hubungan kekeluargaan. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan lain bersama Allah, tentunya aku tidak membutuhkan apa pun setelah ini.' 

Beliau bersabda, "Celaka kau wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?"

Abu Sufyan berkata, "Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, engkau sungguh orang yang murah hati, mulia, dan selalu menjaga hubungan kekeluargaan. Kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini." 

Al-Abbas berkata, "Celaka engkau, Masuklah Islam, bersaksilah bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebelum beliau memenggal lehermu."  Maka setelah itu Abu Sufyan masuk Islam dan memberikan kesaksian secara benar.

 

Al-Abbas berkata kepada  Rasulullah ﷺ , "Wahai Rasulullah,Abu Sufyan adalah orang yang suka kebanggaan. Karenanya, berilah dia sesuatu."

Beliau ﷺ  bersabda, "Engkau benar. Barang siapa memasuki rumah Abu  Sufyan, ia aman. Barang siapa menutup pintunya, ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjidil Haram, ia aman."

 

 

Pada Selasa pagi, 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah ﷺ  meninggalkan Marr Azh-Zhahran menuju Mekkah. Beliau memerintahkan Al-Abbas untuk menahan Abu Sufyan di ujung jalan tembus melewati gunung, hingga iring-iringan pasukan Allah lewat di sana. Dengan demikian, Abu Sufyan bisa melihat semuanya. Al-Abbas pun melakukan perintah Rasulullah tersebut.

 

Demikianlah artikel UMRAID tentang PERISTIWA PENTING DI BULAN RAMADHAN - FATHUL MAKKAH  semoga bermanfaat bagi pembaca. UMRAID menyediakan perjalanan umroh dalam grup ataupun umroh privat yang dapat diatur sendiri. Selain umroh, UMRAID melayani perjalanan wisata halal dan haji khusus. 

 

Selain dapat dikunjungi melelalui website UMRAID juga dapat dikunjungi dengan cara mengunduh aplikasi UMRAID di Android maupun iOS (Apple) disini  atau hubungi Hotline 

 

Pembaca bisa bergabung bersama UMRAID untuk memulai bisnis pemasaran umroh dengan cara mudah dan pendapatan berlimpah. Pilihannya yakni mendaftar sebagai cabang dengan terlebih dulu mengisi permohonan disini atau hubungi hotline untuk mendapatkan bantuan. 

 

Atau bergabung dalam program Affiliator Marketing Program, cukup modal gawai sudah bisa jalankan bisnis umroh, klik disini lalu temukan produk UMRA.ID kemudian mulai pasarkan melalui chat messenger dan media sosial.