Kembali

SERIAL SIROH UMRA.ID : PERANG DENGAN YAHUDI BANI QURAIZHAH (2)

Dipublikasikan pada 17 May 2024 09:12
https://api-uploads.umra.id/banner/67c8ae9a-a49d-421f-87d9-783f1c8cc8f4.jpg

UMRA.ID, Jakarta - Assalamualaikum, kali ini UMRA.ID membagikan tulisan SERIAL SIROH UMRA.ID yaitu tentang PERANG DENGAN YAHUDI BANI QURAIZHAH (2) yang insya Allah sangat bermanfaat bagi pembaca. Dengan mempelajari bahan bacaan yang UMRA.ID bagikan ini, semoga pembaca mendapatkan manfaat yakni mempertebal pengetahuan Islam dan meningkatkan keimanan. Bagi pembaca yang belum maupun yang telah melaksanakan Umroh dan Haji dapat memetik hikmah dengan bertambahnya wawasan Islamnya. (Bagi yang ingin mengikuti tulisan bagian sebelumnya, klik disini

 

 

Perang dengan Yahudi Bani Quraizhah 

 

Perlu diingat, Perang Bani Quraizhah adalah peperangan urat syaraf. Allah menyusupkan ketakutan ke dalam hati orang-orang Yahudi. Mental mereka langsung merosot. Keadaan ini mencapai puncaknya hingga muncul Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam. Ali berteriak, "Wahai pasukan iman, demi Allah, aku siap merasakan seperti yang dirasakan Hamzah, atau lebih baik aku menjebol benteng mereka.”

 

Setelah itu orang-orang Yahudi tunduk kepada keputusan Nabi ﷺ. Beliau memerintahkan untuk menahan semua Yahudi yang laki-laki dan tangan mereka dibelenggu. Muhammad bin Salamah Al-Anshari diserahi tugas untuk mengawasi mereka. Para wanita dan anak-anak digiring ke tempat tertentu yang terpencil. 

 

Orang-orang Aus mendatangi Rasulullah ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah membuat keputusan terhadap Bani Qainuqa' seperti yang engkau ketahui. Mereka adalah sekutu saudara kami dari Khazraj. Sementara Bani Quraizhah adalah rekan kami. Karena itu, berbuat baiklah kepada mereka."

 

Beliau bertanya, "Apakah kalian ridha jika yang membuat keputusan adalah salah seorang di antara kalian?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Serahkanlah kepada Sa'ad bin Mu'adz." Mereka menjawab, "Kami setuju."

 

Saat itu Sa'ad bin Mu'adz berada di Madinah dan tidak ikut pergi ke Bani Quraizhah karena mendapat luka di urat lengannya sewaktu Perang Bani Qainuqa’. Ketika dipanggil ia pun datang dengan menunggang keledai. Saat dia hendak mendatangi Rasulullah ﷺ, orang-orang berkata di kanan kirinya, "Wahai Sa'ad, berbuat baiklah kepada rekan-rekanmu karena Rasulullah ﷺ telah memilihmu sebagai orang yang akan memutuskan perkara. Berbuat baiklah terhadap mereka.” 

 

Sa'ad bin Mu'adz hanya diam dan tidak menanggapi perkataan mereka. Tetapi, karena semakin banyak orang yang berkata seperti itu, ia pun berkata, "Kini sudah saatnya bagi Sa'ad untuk tidak memedulikan celaan orang yang suka mencela, karena Allah." Setelah mendengar jawaban Sa'ad ini, di antara mereka ada yang kembali ke Madinah dan meratapi apa yang bakal menimpa mereka. 

 

Setelah Sa'ad berada di hadapan Nabi ﷺ beliau bersabda kepada para sahabat, "Temuilah pemimpin kalian!" Setelah Sa'ad diturunkan dari punggung Keledai, mereka berkata, "Wahai Sa'ad, orang-orang Yahudi itu sudah pasrah kepada keputusanmu." Sa'ad menjawab, "Apakah keputusanku berlaku bagi mereka?"

 

"Ya," jawab para sahabat.

 

'Apakah juga berlaku bagi kaum Muslimin?"

 

"Ya," jawab mereka. 

 

"Bagì siapapun yang ada di sini?" tanyanya sambil mengarahkan pandangan ke Rasulullah ﷺ sebagai penghormatan bagi beliau.

 

"Ya, juga bagi diriku," jawab beliau. 

 

Akhirnya, Sa'ad berkata, "Aku memutuskan bahwa orang-orang Yahudi yang laki-laki harus dibunuh, sedangkan para wanita dijadikan tawanan dan harta benda dibagi rata." Beliau bersabda, "Engkau telah membuat keputusan berdasarkan keputusan Allah dari atas tujuh langit."

 

Keputusan Sa'ad adalah keputusan yang tepat dan adil. Karena selain melakukan pengkhianatan yang keji, Bani Quraizhah sudah menyiapkan 1500 pedang, 2000 tombak, 300 baju besi, dan 500 perisai untuk menghancurkan kaum Muslimin. Semua ini baru diketahui setelah orang-orang muslim dapat menaklukkan benteng dan perkampungan Yahudi Bani Quraizhah. 

 

Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menahan orang-orang dari Bani Quraizhah di rumah binti Al-Harits, seorang wanita dari Bani An-Najjar. Sebuah parit digali di dalam pasar Madinah. Sekelompok demi sekelompok digiring ke pinggir parit itu lalu leher mereka dipenggal dan dimasukkan ke dalam parit tersebut.

 

Beberapa orang Yahudi yang berada di dekat pemimpin mereka, Ka'ab bin Asad, bertanya, "Apa yang akan dia perbuat terhadap kita menurut penglihatanmu?"  Ka'ab menjawab, "Apakah dimanapun kalian memang tidak bisa berpikir? Apakah kalian tidak melihat orang yang banyak bicara tidak akan dilepaskan dan orang yang telah diusir di antara kalian tidak bisa kembali lagi? Demi Allah, itu adalah hukuman mati."

 

Jumlah kaum laki-laki dari Yahudi Bani Quraizhah yang dihukum tersebut adalah enam ratus hingga tujuh ratus orang. Mereka semua dipenggal. Begitulah kesudahan ular-ular pengkhianat yang telah melanggar perjanjian yang pernah disepakati dan membantu pasukan musuh yang hendak membinasakan kaum Muslimin pada saat-saat yang sangat kritis. Dengan tindakan seperti itu mereka dianggap sebagai penjahat perang, sehingga layak mendapat hukuman mati.

 

Ada pula setan-setan Bani Nadhir yang ikut dibunuh bersama mereka. Salah seorang di antara para tokoh penjahat Perang Ahzab adalah Huyai bin Akhthab, ayah Shafiyah Ummul Mukminin RA. Dia bergabung di benteng Bani Quraizhah saat Quraisy dan Ghathafan pulang karena harus memenuhi janjinya kepada Ka'ab bin Asad, yang sebelum itu dia terus-menerus membujuk dan mendorong Ka'ab untuk melanggar perjanjian. 

 

Huyai telah merobek-robek pakaiannya yang bagus agar tidak dirampas saat digiring dengan tangan terbelenggu di belakang leher untuk menjalani eksekusi, dia berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Demi Allah, aku mencela diriku karena aku telah memusuhimu. Tetapi, siapapun yang memang dikalahkan Allah, pastilah dia akan kalah." Lalu dia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, "Wahai manusia, tidak apa-apa kalau memang telah menjadi keputusan Allah. Ketetapan, takdir, dan tempat pembantaian, semua telah diputuskan bagi Bani Israil." Kemudian dia duduk dan lehernya dipenggal.

 

Semua wanita Bani Quraizhah tidak dibunuh, kecuali seorang saja. Itu dilakukan karena sebelumnya dia telah melemparkan batu penggilingan kepada Khallad bin Suwaid hingga meninggal dunia. Maka dia dieksekusi mati karena perbuatannya itu. 

 

Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membunuh siapapun yang sudah baligh, sedangkan anak-anak yang dianggap belum baligh dibiarkan hidup. Di antara anak yang dianggap belum balig adalah Athiyyah Al Qurazhi. Dia dibiarkan hidup, lalu masuk Islam dan menjadi sahabat yang baik. Tsabit bin Qais RA meminta kepada Rasulullah agar Az-Zabir bin Batha beserta keluarga dan harta bendanya diserahkan kepadanya. Pada perang Bu'ats, Az-Zabir pernah berjasa menyelamatkan Tsabit bin Qais. Permintaannya itu dikabulkan. 

 

Tsabit bin Qais berkata, "Rasulullah ﷺ telah menyerahkan dirimu kepadaku, begitu pula keluarga dan hartamu." Namun, setelah mengetahui bahwa semua rekan-rekannya Yahudi yang lain dibunuh, Az-Zabir berkata, "Atas jasaku kepadamu, wahai Tsabit, aku meminta pertemukanlah aku dengan orang-orang yang kucintai." Lalu Tsabit memenggal lehernya dan mempertemukannya dengan orang-orang yang dicintainya. Tsabit meminta kepada beliau agar anak Az-Zabir, Abdurrahman bin Az-Zabir dibiarkan hidup. Kemudian dia masuk Islam dan menjadi sahabat yang baik.

 

Sementara itu, Ummul Mundzir Salma binti Qais An-Najjariyah meminta kepada beliau agar mengampuni Rifa'ah bin Samwal Al-Qurazhi. Pada akhirnya Rifa'ah masuk Islam dan menjadi sahabat yang baik.

 

Ada beberapa orang Bani Quraizhah yang masuk Islam sebelum mereka menyerah, sehingga darah, harta dan keluarga mereka dilindungi. Pada malam itu pula muncul Amr, yang tidak ikut bergabung dengan Quraizhah untuk melanggar perjanjian. Muhammad bin Maslamah yang bertugas menjaga beliau melihat dirinya. Dia dibiarkan pergi dan tidak diketahui ke mana perginya. 

 

Sementara itu, Abu Lubabah tetap dalam keadaan terikat di masjid selama enam hari. Setiap tiba waktu shalat ada seorang wanita yang menghampirinya dan melepaskan talinya agar dia bisa shalat. Setelah itu, ia mengikat dirinya lagi. Pada dini hari sebelum waktu Subuh tiba, wanita tersebut memintakan ampunan bagi Abu Lubabah. Saat itu beliau sedang berada di rumah Ummu Salamah, Ummu Salamah berdiri di ambang pintu lalu berkata, ""Wahai Abu Lubabah, bergembiralah karena Allah telah mengampunimu.” 

 

Seketika itu orang-orang mengerumuni Abu Lubabah untuk melepaskan talinya. Namun, Abu Lubabah menolak siapapun yang hendak melepaskan tali yang mengikat tubuhnya, kecuali bila Rasulullah ﷺ yang melakukannya. Saat melewatinya untuk mendirikan shalat Subuh, beliau melepaskan talinya. 

 

Peperangan ini terjadi pada bulan Dzulqa'dah 5 H. Peperangan ini berlangsung selama 25 hari. (Shahih Al Bukhari, II/590-591)

 

Allah menurunkan beberapa ayat tentang Perang Ahzab dan Bani Quraizhah dalam surat Al-Ahzab, Dalam surat ini Allah menyebutkan beberapa peristiwa terpenting tentang keadaan orang-orang Mukmin dan munafik, kemudian tentang kehinaan yang diderita oleh pasukan musuh dan kesudahan pengkhianatan Ahli Kitab. []

 

 

Demikianlah artikel UMRAID tentang PERANG DENGAN YAHUDI BANI QURAIZHAH   semoga bermanfaat bagi pembaca. UMRAID menyediakan perjalanan umroh dalam grup ataupun umroh privat yang dapat diatur sendiri. Selain umroh, UMRAID melayani perjalanan wisata halal dan haji khusus. 

 

Selain dapat dikunjungi melelalui website UMRAID juga dapat dikunjungi dengan cara mengunduh aplikasi UMRAID di Android maupun iOS (Apple) disini  atau hubungi Hotline  

 

Pembaca bisa bergabung bersama UMRAID untuk memulai bisnis pemasaran umroh dengan cara mudah dan pendapatan berlimpah. Pilihannya yakni mendaftar sebagai cabang dengan terlebih dulu mengisi permohonan disini   atau hubungi hotline   untuk mendapatkan bantuan. 

 

Atau bergabung dalam program Affiliator Marketing Program, cukup modal gawai sudah bisa jalankan bisnis umroh, klik disini  lalu temukan produk UMRA.ID kemudian mulai pasarkan melalui chat messenger dan media sosial.