Kembali

SERIAL SIROH UMRA.ID : PERANG NAJD (DZATUR RIQA’) [2]

Dipublikasikan pada 19 May 2024 00:00
https://api-uploads.umra.id/banner/c0a2103a-0eba-40e5-9224-6738bae09f44.jpg

UMRA.ID, Jakarta - Assalamualaikum, kali ini UMRA.ID membagikan tulisan SERIAL SIROH UMRA.ID yaitu tentang PERANG NAJD (DZATUR RIQA’) [2] yang insya Allah sangat bermanfaat bagi pembaca. Dengan mempelajari bahan bacaan yang UMRA.ID bagikan ini, semoga pembaca mendapatkan manfaat yakni mempertebal pengetahuan Islam dan meningkatkan keimanan. Bagi pembaca yang belum maupun yang telah melaksanakan Umroh dan Haji dapat memetik hikmah dengan bertambahnya wawasan Islamnya. (Bagi yang ingin mengikuti tulisan bagian sebelumnya, klik disini

 

 

 

Perang Dzatur Riqa'

 

Setelah Rasulullah ﷺ berhasil menghancurkan dua sayap yang paling kuat dari tiga sayap pasukan sekutu, konsentrasi beliau tertuju ke sayap ketiga, yaitu orang-orang Arab Badui yang dikenal keras kepala dan suka melakukan penyerangan di daerah Najd. Mereka adalah orang-orang yang dari waktu ke waktu suka merampas dan merampok. 

 

Karena orang-orang Badui itu tidak pernah berkumpul di satu wilayah atau kota dan mereka juga tidak mempunyai benteng pertahanan, maka ada sedikit kesulitan yang harus dihadapi beliau untuk menguasai dan memadamkan api kejahatan mereka secara tuntas. Dalam hal ini mereka lebih sulit dihadapi daripada penduduk Mekkah maupun Khaibar. Karena itu, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghadapi mereka kecuali memberikan pelajaran dan menakut-nakuti. Kaum Muslimin melaksanakan tugas ini hingga beberapa kali.

 

Karena ada orang-orang Badui yang menghimpun pasukan untuk menyerang pinggiran Madinah, Rasulullah ﷺ mengirim pasukan untuk memberi pelajaran kepada mereka, yang disebut dengan Perang Dzatur Riqa'. Mayoritas penulis kisah peperangan menyebutkan bahwa peperangan ini terjadi pada 4 H. Tetapi, dengan keikutsertaan Abu Musa Al-Asy'ari dan Abu Hurairah dalam peperangan ini menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi setelah Perang Khaibar. Menurut mayoritas pendapat, perang ini terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal 7 H.

 

Rasulullah ﷺ mendapat informasi tentang Bani Tsa'labah yang bersatu dengan Bani Muharib dari Ghathafan. Berdasarkan informasi ini beliau berangkat bersama 400 atau 700 prajurit. Madinah diwakilkan kepada Abu Dzar atau Utsman bin Affan. Beliau memasuki wilayah mereka hingga tiba di suatu tempat yang disebut Nakl, yang jaraknya sama dengan perjalanan kaki selama dua hari dari Madinah. 

 

Beliau bertemu dengan segolongan penduduk dari Ghathafan. Mereka menawarkan perdamaian dan tidak terjadi pertempuran. Hanya saja, beliau melaksanakan shalat Khauf di tempat mereka. Di dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Musa Al-Asy'ari bahwa ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ. Kami berjumlah enam orang dan satu ekor unta. Kami berjalan di belakang unta itu hingga menyebabkan telapak kaki kami pecah-pecah. Kakiku juga mengalami hal yang sama, bahkan kuku kakiku terkelupas. Kami membalut telapak kaki dengan kain, karena itu tempat tersebut kami namai Dzatur Riqa' (ada pembalutan), karena kami membalut kaki dengan sobekan kain.”

 

Dalam riwayat Al-Bukhari juga disebutkan dari Jabir bahwa ia berkata, "Kami bersama Nabi ﷺ di Dzatur Riqa'. Ketika kami tiba di suatu pohon yang rindang, kami memberikan kesempatan kepada beliau untuk berteduh di bawahnya. Beliau singgah di tempat itu dan orang-orang berpencar mencari perlindungan sendiri-sendiri. Di pohon itu pula beliau menggantungkan pedangnya. Kami tertidur sebentar, lalu tiba-tiba muncul salah seorang musyrik dan mengambil pedang beliau. Dengan mengacungkannya, orang itu bertanya kepada beliau, "Apakah engkau takut kepadaku?"

 

"Tidak," jawab beliau. 

 

"Siapa yang bisa menghalangimu dari tindakanku?" gertaknya. 

 

"Allah," jawab beliau. 

 

Jabir melanjutkan, "Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil kami. Ketika kami berdatangan di depan beliau, tampak seorang Arab Badui yang sedang duduk. Beliau bersabda, 'Ketika aku sedang tidur, orang ini memungut pedangku. Saat terbangun aku melihat pedang itu dalam keadaan terhunus di tangannya. Dia bertanya kepadaku, 'Siapakah yang bisa menghalangimu dariku?" Aku menjawab, 'Allah." Tiba-tiba dia menggelosor di depanku'." Beliau tidak mencaci orang itu sama sekali. 

 

Dalam riwayat Abu Awanah disebutkan, "Pedang beliau jatuh dari tangan orang musyrik itu lalu beliau memungutnya. Beliau ganti bertanya kepadanya, "Siapakah yang bisa menghalangimu dariku?"

 

Orang itu menjawab, "Jadilah sebaik-baik orang yang menjatuhkan hukuman." Beliau bersabda, "Kalau begitu bersaksilah bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah." Namun, orang tersebut hanya menjawab, "Aku berjanji kepadamu untuk tidak memusuhimu dan tidak akan bergabung bersama orang-orang yang memusuhimu.”  Beliau melepaskan orang itu. Setelah tiba di tengah kaumnya, dia berkata kepada mereka, "Aku baru saja datang dari orang yang paling baik.” 

 

Peperangan ini cukup efektif untuk menanamkan rasa takut di dalam hati orang-orang Badui yang dikenal keras. Jika menelusuri lebih jauh beberapa pengiriman satuan pasukan setelah perang ini, bisa dilihat bahwa beberapa kabilah di Ghathafan tidak berani lagi mengangkat kepala.  Bahkan sedikit demi sedikit mereka menyerah dan tidak sedikit di antara mereka yang masuk Islam, sehingga kita bisa melihat beberapa kabilah dari orang-orang Arab Badui ini yang bergabung bersama kaum Muslimin dalam penaklukan Mekkah dan Perang Hunain. Mereka juga mendapat bagian dari rampasan perang. Saat diminta untuk mengeluarkan sedekah, mereka pun memberikannya. 

 

Dengan tuntasnya peperangan ini sayap yang ketiga dari pasukan musuh sudah terlumpuhkan dan terciptalah keamanan serta ketenteraman di wilayah tersebut. Setelah itu kaum Muslimin dengan mudah bisa menutup setiap celah di beberapa wilayah yang hendak dinodai oleh beberapa kabilah di sana. Bahkan dengan usainya peperangan ini, mulai tampak beberapa pendahuluan untuk menaklukkan berbagai negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar. Karena di dalam negeri sudah ada beberapa faktor yang sangat menunjang kepentingan kaum Muslimin. (Artikel tentang Surat-surat Rasulullah kepada Raja-raja dapat dibaca disini)

 

Sepulang dari peperangan ini Rasulullah tidak pergì ke mana-mana dan hanya menetap di Madinah hingga Syawwal 7 H. 

 

 

Demikianlah artikel UMRAID tentang PERANG NAJD (DZATUR RIQA') semoga bermanfaat bagi pembaca. UMRAID menyediakan perjalanan umroh dalam grup ataupun umroh privat yang dapat diatur sendiri. Selain umroh, UMRAID melayani perjalanan wisata halal dan haji khusus.

 

Selain dapat dikunjungi melelalui website UMRAID juga dapat dikunjungi dengan cara mengunduh aplikasi UMRAID di Android maupun iOS (Apple) disini  atau hubungi Hotline  

 

Pembaca bisa bergabung bersama UMRAID untuk memulai bisnis pemasaran umroh dengan cara mudah dan pendapatan berlimpah. Pilihannya yakni mendaftar sebagai cabang dengan terlebih dulu mengisi permohonan disini   atau hubungi hotline  untuk mendapatkan bantuan. 

 

Atau bergabung dalam program Affiliator Marketing Program, cukup modal gawai sudah bisa jalankan bisnis umroh, klik disini  lalu temukan produk UMRA.ID kemudian mulai pasarkan melalui chat messenger dan media sosial.